Ilmu Balaghah
A. AL-BALÂGHAH — AL-FASHÂHAH
Balâghah
secara etimologi berarti al-wusûl
wa al-intihâ’ (sampai dan berakhir). Balâghah secara terminologi
hanya ditempatkan sebagi sifat yang melekat pada kalâm (balâghatu
al-kalâm) dan sifat yang melekat pada mutakallim (balâghatu
al-mutakallim). Balâghat al-kalâm, berarti mencari kalimat
yang sesuai dengan maksud yang dikehendaki, dengan kata-kata yang fasih baik
ketika mufrad maupun murakkab. Sedangkan kalimat yang bâligh
(al-kalâm al-balîgh) adalah kalimat yang mampu mengejawentahkan ide penutur
untuk disampaikan kepada lawan tutur (pendengar) dengan gambaran ide yang tidak
berubah pada keduanya. Sedangkan balâghat al-mutakallim, berarti
kemampuan diri untuk mencipta kalimat yang balîgh (fasîh dan
mengena sasaran)[1]. Dari
terminologi di atas nampak jelas bagaimana balâghah mempunyai peran
komunikatif—stimulus dan respon—dengan kalimat yang tidak ambigu dan mampu mewakili
ide penutur.
Al-Fashâhah
dalam istilah ilmuan balâghah
diartikan sebagai ungkapan yang jelas dan gamblang, mudah difahami dan benar
strukturnya, sebagaimana biasa digunakan oleh para penyair dan penulis[2]. Fashâhah
terdapat dalam kata (al-mufrad), kalimat (al-kalâm) dan penutur (al-mutakallim).
Sedangkan balâghah hanya bersinggungan dengan kalimat (al-kalâm)
dan penutur (al-mutakallim)-nya saja.[3] Dari
pengertian balâghah dan fashâhah diatas nampak jelas bagaimana balâghah
mensyaratkan aspek eksternal bahasa, yakni sampai dan mengenanya ide kalimat
kepada lawan tutur. Balâghah menempatkan kalimat sebagai proses
sampainya makna dari stimulus ke responden, tidak hanya pada aspek internal
kalimat saja (mufrad), pendek kata kalimat yang balîgh mesti fashîh
dan tidak sebaliknya.
Balâghah dalam
terminologi ilmu berarti sebuah kemampuan untuk mengungkapkan apa yang ada
dalam fikiran dengan ungkapan yang jelas maknanya dan benar strukturnya, sangat
berkaitan erat dengan sastra bahkan awalnya mencakup ilmu sastra dengan segala
macam bentuk dan keindahannya[4]. Balâghah
dalam pengertian ini sering dipadankan dengan retorika, Gorys Keraf
mengartikan retorika sebagai suatu teknik pemakaian bahasa sebagai seni, baik
lisan maupun tertulis, yang didasarkan pada suatu pengetahuan yang tersusun
dengan baik.[5] Susunan
pengetahuan yang berupa komulasi aturan-aturan pragmatik[6] dan
estetika kalimat itulah yang dalam bahasa Arab kemudian disebut sebagai Ilmu
Balâghah.
Balâghah mempunyai tiga cabang ilmu yaitu (1) Ilmu
al-Ma’âni (2) Ilmu al-Bayân, dan (3) Ilmu al-Badî’, ketiganya
mempunyai obyek kajian yang masing-masing saling melengkapi.
B. ‘ILMU AL-MA’ÂNI
‘Ilmu Ma’âni
adalah dasar-dasar dan kaidah-kaidah yang menjelaskan pola kalimat berbahasa
Arab agar bisa disesuaikan dengan kondisi dan tujuan yang dikehendaki penutur.
Tujuan ‘ilmu al-ma’âni adalah menghindari kesalahan dalam pemaknaan yang
dikehendaki penutur yang disampaikan kepada lawan tutur. Ilmuan bahasa yang
dianggap sebagai pencetus Ilmu Bayan adalah ‘Abdul Qâhir al-Jurjani ( w. 471 H)[7].
Dari terminologi ‘ilmu al-ma’âni yang ingin
menyelaraskan antara teks dan konteks, maka obyek kajiannya-pun berkisar pada
pola-pola kalimat berbahasa arab dilihat dari pernyataan makna dasar—ashly,
bukan tab’iy— yang dikehendaki oleh penutur. Menurut as-Sakkâki, yang
dikehendaki oleh pembacaan model ma’âni bukan pada struktur kalimat itu
sendiri, akan tetapi terdapat pada “makna” yang terkandung dalam sebuah
tuturan. Jadi yang terpenting dalam pembacaan ma’ani adalah pemahaman
pendengar terhadap tuturan penutur dengan pemahaman yang benar, bukan pada
tuturan itu secara otonom.[8]
Adapun obyek kajian Ilmu Ma’ani adalah tema-tema
berikut, (1) Kalâm Khabar (2) Kalâm Insya’ (3) al-Qasr (4)
Îjaz, Ithnab dan Musâwah.
1. Kalâm Khabar (statement sentence)
Kalâm Khabar
atau kalimat berita adalah kalimat yang penuturnya bisa dikatakan jujur atau
bohong. Penutur dikatakan jujur jika kalimatnya sesuai dengan fakta, dan
dikatakan bohong jika kalimatnya tidak sesuai dengan fakta[9]. Contoh kalâm
khabar “purnama telah datang dan pekat-pun berlalu”, bisa saja berita ini
benar bisa juga salah. Adapun tujuan kalimat berita (kalâm khabar)
bermacam-macam, diantaranya;
- Sebagai permohonan belas
kasihan (istirhâm), contoh:
إني فقير إلى عفو ربي
- Menampakkan kelemahan dan
kepasrahan , contoh:
إني وهن العظم مني واشتعل الرأس شيبا
- Penyesalan dari sesuatu yang
diharapkan, contoh;
إني وضعتها أنثى
Pertama:
al-jumlah al-fi’liyyah
(verbal sentence), menunjukkan suatu pekerjaan
yang temporal, dengan tiga keterangan waktu, sekarang, yang telah berlalu
dan yang akan datang. Contoh:
أشرقت الشمس وقد ولى الظلام هاربا
Kedua: al-jumlah al-ismiyah (nominal sentence),
biasanya untuk menentukan ketetapan sifat kepada yang disifati dan untuk
menyatakan kebenaran umum (general thuth). Contoh:
الأرض متحركة والشمس مشرقة
2. Kalâm Insya'(originative sentence)
Kalâm Insya’
adalah kalimat yang penuturnya tidak bisa dinilai bohong ataupun jujur.[11] Kalâm
insya’ dibagi kedalam dua bagian, yaitu (1) Insya’ thalaby (2) Insya’
ghairu thalaby.
a. Insya’ thalaby
Insya’ thalaby
adalah kalimat yang menghendaki suatu permintaan yang belum diperoleh saat
meminta. Insya’ thalaby dibagi kedalam lima macam, yaitu[12]:
1) Al-`amr.
Al-`amr adalah
meminta terlaksananya suatu pekerjaan kepada lawan bicara dengan superioritas
dari penutur untuk melaksanakan perintah. Dilihat dari bentuk kalimatnya, al-`amr
dalam bahasa Arab memiliki empat bentuk, yaitu[13]:
a) Fi’il `amr,
contoh:
يَايَحْيَى خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ
وَءَآتَيْنَاهُ الْحُكْمَ صَبِيًّا ( مريم:12)
b) Fi’il mudhâri’ yang
bersambung dengan lâm al-`amr, contoh:
لِيُنفِقْ ذُو سَعَةٍ مِّن سَعَتِهِ
(الطلاق: 7)
c) Ism fi’il al-`amr,
contoh:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا
عَلَيْكُمْ أَنفُسَكُمْ لاَيَضُرُّكُمْ مَّنْ ضَلَّ إِذَااهْتَدَيْتُمْ َ {
المائدة:105}
d) Mashdar
sebagai ganti fi’il `amr, contoh:
وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي
الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا { البقرة:
83}
Selain model pola kalimat al-`amr juga memiliki
beberapa fungsi makna, diantaranya:
a) Al-du’a`
(do’a), contoh:
رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ
نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ { النمل: 19}
b) Al-Irsyâd (petuah
bijak), contoh:
يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا
إِذَا تَدَايَنتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى فَاكْتُبُوهُ وَلْيَكْتُب
بَّيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ (البقرة: 282)
c) Al-Tahdîd
(ancaman), contoh:
الْقِيَامَةِ اعْمَلُوا مَاشِئْتُمْ
إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ {فصلت:40}
d) Al-Ta`jîz
(melemahkkan), contoh:
فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِن مِّثْلِهِ
وَادْعُوا شُهَدَآءَكُم مِّن دُونِ اللَّهِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ (البقرة:23)
e) Al-Ibâhah
(pembolehan), contoh:
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى
يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ اْلأَسْوَدِ مِنَ
الْفَجْرِ (البقرة:187)
2) Al-Nahy.
Al-nahy adalah
meminta dihentikannya suatu pekerjaan kepada lawan bicara dengan superioritas
dari penutur untuk melaksanakan permintaan. Struktur kalimatnya disusun dengan
menyambungkan fi’il mudhâri’ dengan lâ nâhiyah ( berarti:
jangan..!)[14] contoh:
وَلاَتُفْسِدُوا فِي اْلأَرْضِ بَعْدَ
إِصْلاَحِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ ( الأعرف: 85)
Seperti halnya amr, struktur nahy juga
memiliki beberapa fungsi makna, diantaranya:
a) Al-du’â`(berfungsi
sebagai do’a), contoh:
رَبَّنَا لاَتُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ
إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ
(ال عمران: 8)
b) Al-Irsyâd ( memberi
petuah bijak), contoh:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا
لاَتَسْئَلُوا عَنْ أَشْيَآءَ إِن تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ… (المائدة: 101)
c) Al-Dawâm
(keabadian), contoh:
وَلاَتَحْسَبَنَّ اللهَ غَافِلاً
عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ
اْلأَبْصَارُ (إبراهيم:42)
d) Al-Tahdîd (ancaman),
contoh:
لا تطع أمري ايها الأخ..
e) Al-Tamannî
(pengharapan), contoh:
يا ليل طلٍِ يا نوم زل * يا صبح
قف لا تطلع
3) al-Istifhâm,
Al-Istifhâm
adalah mencari tahu tentang sesuatu yang belum diketahui sebelumnya, dengan
menggunakan adât al-istifhâm (kata sandang untuk istifhâm),
yaitu: hamzah, hal, man, mâ, matâ, ayyâna, kayfa, aina, kam dan ayyu
. Dilihat dari segi bentuk permintaannya, istifhâm dibagi menjadi tiga
macam, yaitu[15]:
a) Pertanyaan yang
kadang meminta konfirmasi dan kadang meminta afirmasi (tashawwur). Adât
yang digunakan adalah hamzah, contoh:
1) أ علي مسافر أم خالد؟
2) أ علي مسافر؟
b) Pertanyaan yang meminta
afirmasi saja, adât al-istifhâm yang digunakan adalah hal.contoh:
هل يعقل الحيوان؟
c) Pertanyaan yang
meminta konfirmasi saja. Adât yang digunakan adalah semua adât
al-istifhâm kecuali hal dan hamzah.contoh:
يسئلونك عن الساعة أيان مرسها؟
4) al-Tamannî
a) Sesuatu yang mustahil
digapai, contoh:
ألا ليت الشباب يعود يوما * فأخبره
بما فعل المشيب
b) Sesuatu yang mungkin
digapai namun tidak mampu teraih, contoh:
يَالَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَآأُوتِىَ
قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ (القصص:79)
Al-Tamannî
memiliki satu `adât ashly yakni ليت
dan mempunyai tiga `adât yang tidak ashly sebagai
penggantinya, yaitu:
a) Hal (apakah,
adakah, akankah…), contoh:
فَهَل لَّنَا مِن شُفَعَآءَ
فَيَشْفَعُوا لَنَآ أَوْ نُرَدُّ فَنَعْمَلَ غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ قَدْ
خَسِرُوا أَنفُسَهُمْ وَضَلَّ عَنهُم مَّاكَانُوا يَفْتَرُونَ (الأعراف:53)
b) Lau (jika,
sekiranya..), contoh:
فَلَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَكُونَ
مِنَ الْمُؤْمِنِينَ (الشعراء: 102)
c) La’alla(
niscaya…), contoh:
أ سرب القطا هل من يعير جناحه * لعلي
إلى من قد هويت أطير
5) al-Nidâ’
al-Nidâ’ adalah
meminta kedatangan sesorang atau sesuatu dengan kata ganti yang bermakna
“aku memanggil”. Ada delapan kata sandang dalam istifhâm, yaitu: hamzah,
aiy, yâ, wâ, âa, ayâ, hayâ dan wâ. Hamzah dan aiy
berfungsi untuk memanggil sesuatu yang berada di dekat pemanggil, sedangkan `adât
yang lain untuk sesuatu yang jauh dari pemanggil. Contoh[17]:
أيا جميع الدنيا لغير بلاغة *
لمن تجمع الدنيا و أنت تموت
Selain berfungsi memanggil, al-nidâ’ memiliki makna
yang beragam seiring konteks yang melingkupinya, macam-macam arti nidâ’
antara lain:
a) Al-Ighrâ`
(bujukan, anjuran), seperti anjuran kepada seseorang yang mondar mandir mau
masuk rumah musuhnya:
يا شجاع أقدم..
b) Al-Zijr (hardikan,
cacian), contoh:
يا فؤدي متى المتاب ألما * تصح
والشيب فوق رأس ألما
c) Al-Tahassur
wa al-taujî` (penyesalan dan kesakitan), contoh:
وَيَقُولُ الْكَافِرُ يَالَيْتَنِي
كُنتُ تُرَابًا (النباء:40)
d) Al-Istighâtsah
(permintaan pertolongan), contoh:
يا ألله…. حبي وهوائي مكتوم إليها
e) Al-Nudbah
(ratapan/elegi), contoh:
فواعجبا كم يدعي الفضل ناقص * ووا
أسفا كم يظهر النقص فاضل
b. Insya’ Ghair Thalaby
Insya’ Ghairu Thalaby adalah
kalimat yang didalamnya tidak menghendaki suatu permintaan. Insya’ ghairu
thalaby bisa berbentuk, al-Madh wa al-Dzam,Shiyâgh al-‘Uqûd, al-Qasam dan
al-Ta’ajjub wa al-Raja’. Contoh:.[18]
a) al-Madh wa al-Dzam,menggunakan
kata ni’ma, bi`sa dan habbadza, contoh:
نعم الكريم حائم…. وبئس البخيل
مادر
b) Shiyaghu al-‘Uqûd.
kebanyakan menggunakan shîghah fi’il madhi, contoh:
بعتك هذا ووهبتك ذاك
c) al-Qasam,
menggunakan wawu, ba’, ta’ dan lain sebagainya, contoh:
لعمرك ما فعلت كذا
d) al-Ta’ajjub, biasanya
berisi dua pernyataan yang berkebalikan, contoh:
كيف تكفرون بالله وكنتم أمواتا
فأحياكم (البقرة 28)
e) al-Raja’,
biasanya menggunakan, ‘asâ, hariyyu (la’alla) dan ikhlaulaqa,
contoh:
عسى الله أن يأتي بالفتح
3. Al-Qashr (rhetorical restriction)
Al-Qashr berarti
mengkhususkan sesuatu dengan sesuatu yang lain dengan cara yang khusus pula,
kata pertama adalah al-maqsûr (yang mengkhususkan) dan kata yang kedua
adalah al-maqsûr ‘alaihi (yang dikhususkan)[19]. Metodologi
pembentukan qashr ada empat macam yaitu:
a) Al-nafyu wa
al-istitsnâ`, contoh:
ما شوقي إلا شاعر وما شوقي إلا شاعر
b) Innamâ, contoh:
إِنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ
عِبَادِهِ الْعُلَمَاؤُا (الفاطر: 28)
c) Mendahulukan kata
yang seharusnya berada diakhir, contoh:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ
نَسْتَعِينُ (الفاتحة: 5)
d) Athaf dengan lâ,
bal dan lakin, contoh:
عمر الفتى ذكره لا طول مدته * وموته
حزيه لا يومه الداني
Qashr dilihat
dari eksistensinya ada dua macam:
Pertama: Qashr
Haqîqy yaitu pengkhususan sesuatu berdasarkan realitas kenyataan
tuturan dan tidak keluar dari itu. Contoh, لا
إله إلا الله
Kedua: Qashr idhôfi
yaitu pengkhususan sesuatu yang didasarkan pada penyandaran sesuatu yang berada
diluar ujaran. Contoh:
إنما حسن شجاع
4. Îjaz (brachylogi), Ithnab (periphrasis), Musâwah
(equality)
a. Îjaz adalah
adanya makna yang luas dibalik kalimat yang pendek. Îjaz ada dua
macam, ada kalanya Qashr (meringkas) dan ada kalanya Hadf
(membuang)[20]. Contoh:
ولكم فى القصاص حياة يا أولى الألباب
(القصر)
وجاهد فى الله حق جهاده (الخذف)
تنزل الملائكة و الروح فيها
c. Musâwah
adalah kalimat dimana kata-katanya sepadan dengan maknanya dan maknanya sepadan
dengan kata-katanya, tidak lebih dan tidak kurang.
ستبدى لك الأيام ما كنت جاهلا
* ويأتيك بالأخبار من لم تزود
5. Al-Fashl dan al-Washl
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا
اتَّقُوا اللهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ (التوبة: 119)
Al-Fashl
adalah kebalikan dari al-washl, yakni tidak menyambungkan antara dua
kalimat, contoh:
وَلاَتَسْتَوِي الْحَسَنَةُ
وَلاَالسَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ
وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (فصلت:34)
C. ILMU AL-BAYÂN
Al-Bayân secara
etimologi berarti penyingkapan, penjelasan dan keterangan. Sedangkan secara
terminologi, Ilmu Bayân berarti dasar dan kaidah-kaidah yang
menjelaskan keinginan tercapainya satu makna dengan bermacam-macam metode (gaya
bahasa), bertujuan menjelaskan rasionalitas semantis dari makna tersebut.[23]
Berangkat dari pengertian Ilmu Bayan yang berisi
bermacam-macam metode untuk menyampaikan makna, maka obyek kajiannya-pun
berkisar pada berbagai corak gaya bahasa yang merupakan metode penyampaian
makna. Obyek kajian ilmu Bayan meliputi: (1) Tasybîh (2) Majâz,
dan (3) Kinâyah.
Al-Tasybîh
adalah seni penggambaran yang bertujuan menjelaskan dan mendekatkan sesuatu
pada pemahaman, tasybîh merupakan ungkapan yang menerangkan adanya
kesamaan sifat diantara beberapa hal, yang ditandai dengan kata-sandang kaf
(bak/laksana) dan sejenisnya, baik secara tersurat maupun tersirat. Tasybîh
mempunyai beberapa variabel, diantaranya: Musyabbah, Musyabbah bih
-keduanya disebut sebagai dua titik pokok tasybih-, Adâtu al-Tasybîh dan
Wajhu al-Syibhi.[25] Dari
beberapa variabel ini kemudian memunculkan beberapa macam tasybih,
yaitu:
a. Tasybih Mursal, yaitu tasybih yang
disebutkan adât (kata sandang)-nya, contoh:
أنت كالليث في الشجاعة والإقــ * دام
والسيف في قراع الخطوب
b. Tasybih Muakkad,
yaitu tasybih yang dibuang adât (kata sandang)-nya, contoh:
أنت نجم في رفعة وضياء * تجتليك
العيون شرقا وغربا
c. Tasybih Mujmal, yaitu tasybih yang
dihilangkan wajah sibhi-nya., contoh:
كأنهن بيض مكنون
d. Tasybih Baligh,
yaitu tasybih yang tidak ada adat dan wajah shibhi-nya,
contoh:
ركبوا الدياجى والسروج أهــ * لة وهم
بدور والأسنة أنجم
Majâz secara
etimologi terbentuk dari kata jâza al-syai’ yajûzuhu (melampaui
sesuatu). Sedangkan secara terminologi, majâz menurut al-Jurjani berarti
nominal yang dimaksudkan untuk menunjuk sesuatu yang bukan makna tekstual,
karena adanya kecocokan antara keduanya (makna tekstual dan kontekstual).[27]
Majâz ada dua
macam, yaitu:
a. Majâz Lughawi
Majâz Lughawi
adalah ujaran yang digunakan untuk menunjuk sesuatu diluar makna tekstual
(dalam istilah percakapan) karena adanya korelasi (dengan makna kiasan), dengan
adanya indikasi yang melarang pemaknaan asli (tekstual).[28] Majâz
Lughawi dibagi lagi menjadi dua macam: Isti’ârah dan Majâz Mursal.
1) Isti’ârah
Istiârah adalah majâz
dimana hubungan antara makna asli dengan makna kiasan bersifat hubungan
ke-serupa-an. Isti’ârah dilihat dari segi penyebutan musyabbah
dan musyabbah bih-nya dibagi lagi menjadi dua macam[29]:
a) Al-Isti’ârah
al-Tashrihiyyah: adalah isti’ârah yang diutarakan dengan tetap
menyebutkan kata-kata musyabbah bih-nya, contoh:
وأقبل يمشى فى البساط فما درى * إلى
البحر يسعى أم إلى البدر يرتقى
b) Al-Isti’arah al-Makniyyah:
adalah isti’ârah yang dibuang musyabbah bih-nya dan digantikan dengan
sesuatu yang lazim dengan itu, contoh:
وإذا المنية أنشبت أطفارها
* ألفيت كل تميمة لا تنفع
Dilihat dari segi
pengambilan kata-kata yang dijadikan isti’ârah, isti’ârah ada dua
macam, yaitu:
a) Isti’ârah Ashliyyah
: yaitu isti’ârah yang mana kata-kata isti’arah-nya berasal
dari ism jins (generik noun: kumpulan noun berupa sesuatu non-personal),
contoh:
كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ
لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى
صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ (إبراهيم: 1)
b) Isti’ârah Taba’iyyah:
yaitu isti’ârah yang kata-kata isti’arah-nya diambil dari isim,
fiil ataupun huruf, contoh:
وَلأُصَلِّبَنَّكُمْ فِي جُذُوعِ
النَّخْلِ وَلَتَعْلَمُنَّ أَيُّنَا أَشَدُّ وَأَبْقَى (طه:71)
Dilihat dari pengkiasan musyabbah dan musyabbah
bih-nya, isti’arah dibagi menjadi tiga macam:
a. Al-Isti’arah
al-Murasysyahah: yaitu isti’ârah yang disebutkan pengkiasan pada
musyabbah bih-nya, contoh:
أُولَـئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوا
الضَّلاَلَةَ بِالْهُدَى فَمَا رَبِحَت تِجَارَتُهُمْ وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ
(البقرة: 16)
b. Al-isti’ârah
al-Mujarradah: yaitu isti’ârah yang disebutkan pengkiasan pada musyabbah-nya,
contoh:
وليلة مرضت من كل ناحية * فما يضئ
لـها نجم ولا قمر
c) Al-Isti’ârah
al-Muthlaqah: yakni isti’ârah yang tidak disebutkan pengkiasan
pasa musyabbah dan musyabbah bih-nya, ataupun disebutkan keduanya
secara bersamaan, contoh:
الَّذِينَ يَنقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ
مِن بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَآأَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَن يُوصَلَ
وَيُفْسِدُونَ فِي الأَرْضِ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ (البقرة: 27)
2) Majâz Mursal
Majâz Mursal
adalah majâz dimana hubungan pemaknaannya tidak bersifat ke-serupa-an.
Majâz mursal dilihat dari segi pengkiasannya dibagi ke dalam beberapa
bentuk, diantaranya[30]:
a) As-Sababiyyah
, contoh:
له أياد علي سابغة * أعد
منها ولا أعددها (المتنبى)
b) Al-Musabbabiyyah,
contoh:
فمن شهد منكم الشهر فليصمه (الآية)
c) Al-Kulliyah,
contoh:
يقولون بأفواههم ما ليس في قلوبهم
(الآية)
d) Al-Juz`iyyah,
contoh:
فرجعنك إلى أمك تقر عينها ولا تحزن
(الآية)
e) I’tibâr mâ kâna,
contoh:
وآتو اليتامى أموالـهم (الآية)
f) I’tibâr mâ yakûnu,
contoh:
إني أرني أعصر خمرا (الآية)
g) Al-Hâliyah, contoh :
واسأل القرية التى كنا فيها (الآية)
h) Al-Mahalliyah,
contoh:
وأما الذين ابيضت وجوههم ففى رحمة
الله (الآية)
b. Majâz ‘Aqli
Majâz ‘aqli
adalah majâz yang menyandarkan fi’il (verb) atau sejenisnya bukan
kepada pemaknaan yang sebenarnya karena adanya indikasi yang melarang pemakmaan
yang sebenarnya (tekstual)[31]. Ada
beberapa model hubungan pengkiasan dalam majâz ‘aqli, diantaranya:
1) Hubungan sebab
akibat, contoh:
وإذا تليت عليهم آياته زدتهم إيمانا
2) Hubungan waktu,
contoh:
يوما يجعل الولدان شيبا
3) Hubungan tempat, contoh:
وجعلنا الأنهار تجرى من تحتهم
Kinâyah secara
etimologi adalah sesuatu yang dibicarakan oleh seseorang namun maksudnya
lain. Secara terminologi, kinâyah berarti ujaran yang dimaksudkan bukan
untuk makna sesungguhnya, namun diperbolehkan menggunaan makna sesungguhnya
karena tidak adanya indikasi yang melarang keinginan pemaknaan haqiqî.[33]
a) Berkedudukan sebagai sifat,contoh:
قالت الخنساء فى أخيها صخر: طويل
النجاد رفيع العماد * كثير الرماد إذا ما شتا
b) Berkedudukan sebagai mausûf,
contoh:
الضاربين بكل أبيض مخدام * والطاعنين
مجامع الأضغان
c) Berkedudukan sebagai nisbat,
contoh:
إن السماحة والمروءة والندى * فى قبة
ضربت على ابن الحشرج
D. ILMU AL-BADÎ’
Al-Badî’ secara
etimologi adalah kreasi yang dicipta tidak seperti ilustrasi yang telah ada.
Secara terminologi, Ilmu Badi’ adalah ilmu yang mempelajari beberapa
model keindahan stylistika, beberapa pepaês—ornamen perhiasan
kalimat—yang menjadikan kalimat indah dan bagus, menyandangi kalimat dengan
kesantunan dan keindahan setelah disesuaikan dengan situasi dan kondisi.[35]
Secara gais besar ilmu badî’ mempunyai dua obyek
kajian, yaitu al-Muhassinât al-Lafdziyyah (keindahan ujaran) dan al-Muhassanât
al-Ma’nawiyyah (keindahan makna).
1. al-Muhassanât al-Lafdziyyah
Jinâs adalah
adanya kesamaan dua kata dalam pelafalan namun berbeda dalam pemaknaan. Ada dua
macam jinâs, yaitu[37]:
1) Jinâs tâm :
adanya kesamaan antara dua kata dari jumlah hurufnya, macam hurufnya, syakl-nya
dan urutannya. Contoh:
وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ
يُقْسِمُ الْمُجْرِمُونَ مَالَبِثُوا غَيْرَ سَاعَةٍ كَذَلِكَ كَانُوا
يُؤْفَكُونَ {الروم: 55}
2) Jinas ghairu tâm:
adanya perbedaan antara dua kata dalam satu macam diantara keempat macam
persyaratan tersebut (syakl, huruf, jumlah dan urutannya). Contoh:
فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلاَتَقْهَرْ
وَأَمَّا السَّائِلَ فَلاَتَنْهَرْ (الضحى:9-10)
b. al-Saj'(rhimed prose)
Saj’ dalam
terminologi balâghiyyin berarti adanya dua kalimat atau lebih yang
mempunyai akhiran dengan huruf yang sama, kata terakhir pada setiap kalimat
disebut dengan fâshilah, dan setiap kalimat disebut dengan faqrah.[38]: Ada tiga
macam saj’, yaitu:
a. Al-Saj’
al-Mutharraf, yaitu dua kalimat atau lebih yang wazan fashilah-nya
berbeda namun bunyi akhirnya sama, contoh:
أَلَمْ نَجْعَلِ اْلأَرْضَ
مِهَادًا وَالْجِبَالَ أَوْتَادًا (النبأ:6-7)
b. Al-Saj’ al-Murashsha’,
yaitu dua kalimat atau lebih yang mana lafadz pada setiap faqrah-nya
memiliki wazan dan qafiyah yang sama, contoh:
فهو يطبع الأسجاع بجواهر لفظه، ويقرع
الأسماع بزواجر وعظه
c. Al-Saj’
al-Mutawâzi, adalah dua faqrah yang sama dalam wazan dan qafiah-nya,
contoh:
فِيهَا سُرُرُُمَّرْفُوعَةٌ
وَأَكْوَابُُمَّوْضُوعَةٌ (الغاشية:13-14)
c. al-Tarshî'(homoeptoton)
Tarshî’ adalah
adanya kesamaan antara lafadz dalam faqrah pertama (syathrah
pertama) dengan faqrah sesudahnya dalam wazan dan qafiyah-nya[39]. Adakalanya
sama persis dalam wazan dan a’jaz-nya, seperti:
إِنَّ اْلأَبْرَارَ لَفِي
نَعِيمٍ وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٍ ( الانفطار:13-14)
Dan adakalanya berdekatan saja dalam wazan dan
a’jaz-nya, contoh:
وَءَاتَيْنَاهُمَا الْكِتَابَ
الْمُسْتَبِينَ وَهَدَيْنَاهُمَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (الصافات: 117-118)
d. al-Tasythir (internal rhyme)
Tasytîr adalah
ketika pembagian penyair terhadap shadr dan ‘ajuz syair
masing-masing menjadi dua bagian, dan antara shadr dan ‘ajuz, saja’-nya
dibuat berbeda. Contoh:[40]
كالزهر فى ترف والبدر فى شرف * والبحر
فى كرم والدهر فى همم
2. al-Muhassanât al-Ma’nawiyyah
a. al-Tauriyah(paronomasia;pun)
Al-Tauriyah adalah
ujaran yang mempunyai dua makna, pertama, makna yang dekat dari
penunjukan ujaran yang nampak, kedua, makna yang jauh dan penunjukan
katanya tersirat dan inilah makna yang dikehendaki. [41]Contoh:
وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُم
بِالَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَاجَرَحْتُم بِالنَّهَارِ (الأنعام:60)
b. al-Thibâq (antithesis)
Tibâq adalah
terkumpulnya suatu kata dengan lawan-kata-nya dalam sebuah kalimat, ada dua
macam tibâq[42],
yaitu:
1) Tibâq al-Ijab,
yaitu tibâq yang mana kedua hal yang berlawanan itu tidak hanya
dibedakan dengan mempositifkan dan menegatifkan saja, contoh:
وَتَحْسَبُهُمْ أَيْقَاظًا وَهُمْ
رُقُودٌ (الكهف: 18)
2) Tibaq al-Salbi,
yaitu tibâq yang hanya memeperlawankan kata negatif dan positifnya saja.
فَلاَ تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ
وَلاَ تَشْتَرُوا بِئَايَاتِي ثَمَنًا قَلِيلاً وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَآأَنزَلَ
اللهُ فَأُوْلاَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ (المائدة:44)
c. al-Muqâbalah (antithesis)
Muqâbalah
adalah membuat susunan dua makna atau lebih, kemudian membuat susunan yang
berlawanan dari makna itu secara berurutan.[43] Contoh:
فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى
وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى وَأَمَّا مَن بَخِلَ
وَاسْتَغْنَى وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى
فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى (الليل:5-10).
d. Husnu al-Ta’lil (conceit)
Husnu al-ta’lil
adalah pengingkaran seorang sastrawan secara tersurat maupun tersirat atas
sebuah konvensi dan mendatangkan konvensi sastra baru sebagai cara yang sesuai
dengan tujuan yang diinginkan[44]. Contoh:
ماهتزب الأغصان فى الروض بفعل النسيم
ولكنها رقصت غبطة بقدومكم.
e. Uslûb al-Hakîm(deliberate equivocation).
Uslûb al-Hakîm
terjadi ketika orang yang diajak berbicara menjawab sesuatu dan tidak
sesuai dengan yang diharapkan orang yang bertanya. Dengan cara, keluar dari
pentanyaan itu, atau dengan menjawab sesuatu yang tidak ditanyakan, ataupun
membawa pembicaraan kepada topik lain, sebagai sebuah isyarat bahwa penanya
pantasnya tidak usah menanyakan hal itu, atau berbicara pada topik yang
diharapkan lawan bicara.[45] contoh:
يَسْئَلُونَكَ عَنِ اْلأَهِلَّةِ قُلْ
هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ (البقرة: 189)
Selain dari beberapa macam muhassinât al-ma’nawiyyah
di atas, para ulama balaghah masih banyak menyebutkan pola-pola lain seperti itbâ’,
istitbâ’, tafrî’ dan lain sebagainya, namun diantara yang paling sering
dikemukakan dan kita jumpai adalah lima pola diatas.
III. KESIMPULAN
Obyek kajian ilmu balâghah merupakan tiga
serangkai retorika bahasa arab yang saling melengkapi. Ilmu Ma’ani
merupakan kajian makna pertama yang menyelaraskan ujaran dengan situasi dan
kondisi. Setelah memahami makna pertama dari sebuah ujaran, Ilmu Bayan
mengajak pembaca berfantasi memahami sebuah ide dengan beberapa style sastra
yang kemudian disempurnakan irama dan maknanya oleh Ilmu Badi’.
Demikianlah pemaparan singkat tentang obyek kajian ilmu
balâghah, menurut penulis, ilmu sastra-termasuk didalamnya ilmu balâghah-,
merupakan sebuah struktur yang mengejawentah dari konvensi (rasa sastra)
menjadi sebuah teori. Namun struktur itu bukan sesuatu yang statis akan tetapi
merupakan proses strukturasi dan destrukturasi yang harus hidup dan berkembang.
Semoga anugrah nalar dan lisan mampu jadi pelita penertian, pemahaman dan
pencerahan. Amin… Wallâhu a’lam.
REFERENSI
Banna’, Haddam. Al-Balâghah: fi ‘Ilm al-Ma’ani.
Ponorogo: Darussalam Press
____________. Al-Balâghah: fi Ilmi al-Bayan.
Ponorogo: Darussalam Press. .
Ghufran, Muhammad. Al-Balâghah: fi Ilmi al- Badi’.
Ponorogo:Darussalam Press.
Hasyimi, Ahmad. Jawâhir al-Balâghah.Beirut : Dâr
al-Fikri. 1994. hlm. 28-30.
Jarim, ‘Ali dan Musthafa Amin. Al-Balâghah al-Wadhihah.
Mesir:Dâr al-Ma’ârif. Cet.X. 1977.
Keraf, Gorys. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: PT.
Gramedia Pustaka Utama. Cet. XIV. 2004.
Sakkâki, Yûsuf ibn Abi Bakar Ya’kub ibn ‘Ali. Miftâhul
‘Ulûm. Beirut : Dâru al-Kutub al-‘Ilmiyyah. Cet. II. 1987.
Verhaar, J.W.M.. Asas-Asas Linguistik Umum.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. cet. III. 2001.
Wahbah, Majdi dan Kamil Muhandis. Mu’jam al-Musthalahât
al-‘Arabiyyah fi al-
[1] Lihat.
Ahmad Hasyimi. Jawâhir al-Balâghah.Beirut : Dâr al-Fikri. 1994.
hlm. 28-31
[2] Ibid.
hlm. 7.
[3] Jadi yang
ada hanya istilah al-lafdhu al-fasîh dan tidak ada al-lafdhu
al-baligh, sedangkan kalimat (kalâm) dan penutur (al-mutakallim)
bisa fasîh dan juga balîgh. Lihat Majdi Wahbah dan Kamil
Muhandis. Mu’jam al-Musthalahât al-‘Arabiyyah fi al-Lughah wa al-Adab.
Beirut: Maktabah Lubnan. Cet. II. 1983. hlm. 260.
[4] Kemudian
ilmu balâghah perlahan-lahan terpisah dari satra menjadi ilmu yang otonom
dengan obyek pembelajaran yang jelas diantara ilmu-ilmu bahasa arab. Ibid.
hlm. 259.
[5] Lihat,
Gorys Keraf. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Cet. XIV. 2004. hlm. 3.
[6] J.W.M.
Verhaar mengartikan pragmatik sebagai cabang ilmu linguistik yang membahas
tentang apa yang termasuk struktur bahasa sebagai alat komunikasi antara
penutur dan pendengar, dan sebagai pengacuan tanda-tanda bahasa pada hal-hal
“ekstralingual” yang dibicarakan. Lihat. J.W.M. Verhaar. Asas-Asas
Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. cet. III. 2001.
hlm. 14.
[7] Ahmad
al-Hasyimi. Op.cit. hlm. 39-40.
[8] Al-Sakkâki
sering disebut sebagai orang pertama yang menulis ilmu balâghah secara
sisitematis, meskipun dia masih menggabungkan ilmu balâghah dengan ilmu nahwu,
ilmu sharaf, semantik dan ilmu syi’ir. Lihat. Yûsuf ibn Abi Bakar
Ya’kub ibn ‘Ali al-Sakkâki. Miftâhul ‘Ulûm. Beirut : Dâru al-Kutub
al-‘Ilmiyyah. Cet. II. 1987. hlm. 161
[9] ‘Ali
al-Jarim dan Musthafa Amin. Al-Balâghah al-Wadhihah. Mesir:Dâr
al-Ma’ârif. Cet.X. 1977. hlm. 139.
[10] Haddam
Banna’. Al-Balâghah: fi ‘Ilm al-Ma’ani. Ponorogo: Darussalam Press.
hlm.13-16. dan Ahmad Hasyimi. Op.cit. hlm. 59-60.
[11] ‘Ali
al-Jarim dan Musthafa Amin. Op.cit. hlm. 139.
[12] Haddam
Banna’. Loc.cit. hlm. 22.
[13] Lihat. Ibid.
hlm.22-23.
[14] Lihat. ‘Ali
Jarim dan Musthafa Amin. Op. Cit. hlm. 184-187, dan Haddam Banna’. Ibid.
hlm. 27-28.
[15] Lihat. ‘Ali
Jarim dan Musthafa Amin. ibid. hlm. 192-199, dan Haddam Banna’, ibid.
hlm. 29-38.
[16] Lihat. ‘Ali
Jarim dan Musthafa Amin. ibid. hlm. 206-207, dan Haddam Banna’, ibid.
hlm. 39.
[17] Lihat. ‘Ali
Jarim dan Musthafa Amin. ibid. hlm. 210-212, dan Haddam Banna’, ibid.
hlm. 40-43.
[18] Insya’
Ghairu thalabi biasanya tidak dibahas Ulama Balâghah karena kebanyakan
bentuknya pada dasarnya merupakan kalâm khabar yang berlawanan dengan kalâm
insya’. Lihat. Ahmad Hasyimi. Op.cit. Ibid. hlm. 6.
[20] Lihat. ‘Ali
Jarim dan Musthafa Amin. ibid. hlm. 239-250, dan Haddam Banna’, ibid.
hlm. 66-77.
[21] Ithnâb
dalam bahasa Indonsia hampir mirip dengan istilah Pleonasme dan Tautologi,
yang merupakan acuan yang mempergunakan kata-kata lebih banyak daripada yang
diperlukan untuk menyatakan satu pikiran atau gagasan, atau juga bisa disamakan
dengan Perifrasis, hanya saja perifrasis kata-kata yang berkelebihan itu
dapat diganti dengan satu kata saja dalam pleunasme kata-kata yang berkebihan
itu dapat dihilangkan Lihat. Gorys Keraf. Op.cit. hlm.133-134.
[22] Ahmad
Hasyimi. Op.cit. hlm. 170-171.
[23] Ibid..
hlm. 212.
[24] Persamaan
atau simile adalah perbandingan yang bersifat ekplisit yang langsung menyatakan
sesuatu dengan yang lain. Lihat. Gorys Keraf. Op,cit. Hlm. 138.
[25] Haddam
Banna’ . al-Balâghah, fi Ilmi al-Bayan. Ponorogo: Darussalam Press. hlm.
23-26. dan ‘Ali Jarim dan Mustafa Amin. Op.cit. Hlm.20.
[26] Alegori
adalah suatu cerita singkat yang mengandung kiasan, makna kiasan ini harus
ditarik dari bawah permukaan ceritanya. Lihat. Goris Keraf. Op.cit. hlm.
140.
[27] Majdi
Wahbah dan Kamil Muhandis. Op.cit. hlm. 333.
[28] Ahmad
Hasyimi. Op.cit. 235
[29] Ibid.
hlm.262, Hadam Banna’. Op.cit. hlm. 61-66.
[30] Lihat.
Haddam Banna’. Op.cit. hlm. 80-84.
[31] ‘Ali Jarim
dan Mustafa Amin. Op. Cit. hlm. 117. dan Ahmad Hasyimi. Op. Cit.
hlm. 258
[32] Kata metonimia
diturunkan dari kata Yunani meta yang berarti menunjukkan perubahan dan anoma
yang berarti nama. Dengan demikian metonimia adalah suatu gaya bahasa
yang mempergunakan sebuah kata untuk menyatakan suatu hal lain, karena
mempunyai pertalian yang sangat dekat. Lihat. Gorys Keraf. Op.cit. hlm.
142.
[33] Ahmad
Hasyimi. Loc.cit. hlm. 297
[34] Haddam
Banna’. Op.cit.hlm.92-95.
[35] Ahmad
Hasyim. Loc.cit. hlm. 308
[36] Pun
atau paromonasia adalah kiasan dengan mempergunakan kemiripan bunyi. Ia
merupakan permainan kata yang didasarkan pada permainan bunyi, tetapi terdapat
perbedaan besar dalam maknanya. Lihat. Gorys Keraf. Op.cit. hlm.145.
[37] Muhammad
Ghufran.Balâghah: Ilmu Badi’. Ponorogo:Darussalam Press.hlm. 23-25.
[38] Ibid.
hlm. 29-31 dan Ahmad Hasyimi. Op. Cit. Hlm. 351-352
[39] Muhammad
Ghufran. Ibid. hlm. 33-35 dan Ahmad Hasyimi. Ibid. hlm. 351-352.
[40] Muhammad
Ghufran. Ibid. hlm-38-40
[41] Ahmad
Hasyimi. Loc. cit. hlm. 310-311.
[42] Muhammad
Ghufran. Loc. cit. hlm. 56-57.
[43] Ahmad
Hasyimi. Loc.cit.. Hlm. 314-315. dan Ibid. hlm. 60-61.
[44] Ali Jarim
dan Musthafa Amin. Op.cit. hlm. 288-289 dan Ibid. hlm. 66-68.
[45] ‘Ali Jarim
dan Musthafa Amin. Op.cit. Hlm. 295-296. dan Muhammad Ghufran. Ibid.
hlm. 66-68.
Komentar
Posting Komentar